AnsorNews.com, JAKARTA – Indonesia memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sejak akhir 2015. Integrasi ekonomi di kawasan bangsa-bangsa Asia Tenggara ini membuat semakin bebasnya pergerakan sumber daya dan semakin ketatnya persaingan.

MEA juga membawa dua konsekwensi, yakni peluang sekaligus tantangan. Bagaimana Gerakan Pemuda Ansor menyikapi fenomena ini?

Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan para kiai telah mengajarkan kepada kader-kader Ansor agar menjadi manusia yang selalu siap menghadapi segala tantangan dalam hidup. Tentu juga siap ketika menghadapi tantangan MEA.

“Sama sekali tidak masalah berhadapan dengan era MEA,” kata Gus Tutut ketika membuka diskusi bertema MEA antara Peluang dan Tantangan di Graha GP Ansor, Jakarta, Jumat (11/3/2016).

Diskusi yang dipandu Ketua GP Ansor Bidang Ekonomi Sumantri Soewarno tersebut menghadirkan pembicara Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakhiri, serta Senior Advisor Ancol Terang Group dan mantan Managing Director PT Pepsi Indonesia Sedyana Pradja Sentosa.

Gus Tutut berharap tak hanya ketakutan-ketakutan yang dicuatkan ke permukaan soal MEA, tetapi juga mengenai optimisme untuk bisa menangkap peluang yang ada di dalamnya.

Menteri Hanif berpendapat untuk bisa menangkap peluang MEA maka perlu kesiapan sumber daya manusia Indonesia, agar memiliki kompetensi dan keunggulan.

SDM yang unggul, kata dia, tidak hanya dilihat dari sisi pendidikan formal.  Pendidikan nonformal terutama pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja juga sangat diperlukan. Hanif menekankan juga pentingnya politik anggaran terhadap pendidikan nonformal ini.

Sementara itu Sedyana menyampaikan trik belajar serta konsep sederhana tentang inovasi, yang sebenarnya telah diajarkan para orang tua sehingga menjadi sebuah budaya.

Niteni, niroake, nambahake,” ujarnya mengutip pesan Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Nasional. Niteni artinya melihat, memperhatikan, mencermati, dan mengingat-ingat. Niroake artinya menirukan. Nambahake artinya memberi tambahan (nilai tambah).

Sesuatu apabila sudah ditambah maka menjadi sesuatu yang berbeda atau baru. Dan, tentu menjadi lebih bernilai tambah. (Ade Cahyadi Setyawan) –Ansornews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *