Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyatakan akan mempertajam tiga visi organisasi yang telah diletakkan pada periode kepemimpinan sebelumnya, serta fokus pada upaya menghadapi empat masalah besar yang dihadapi umat dan bangsa Indonesia.

“Visi kepemimpinan sebelumnya itu luar biasa. Saya melakukan perenungan-perenungan, disksusi dengan sejumlah sahabat, dan saya memutuskan visi ini masih layak untuk kita teruskan,” kata Yaqut pada Pembukaan Konferensi Wilayah XI GP Ansor Sulawesi Utara, Kamis (24/12/2015).

Pertama, merevitalisasi nilai tradisi keislaman. Apa itu? Yakni menyiarkan kepada public dan umat bahwa nilai-nilai Islam itu penuh dengan plularisme. Islam yang antiradikalisme, dan Islam yang menjunjung tinggi nasionalisme.

Bukan Islam yang menganggap, apa yang tidak seperti kelompoknya adalah kafir. Bukan Islam yang menganggap tidak seperti dirinya itu layak dibom, dan layak dibunuh. Akan tetapi Islam yang menjunjung toleransi dan pluralisme.

Kedua, memperkuat sistem kaderisasi. Laksanakan kaderisasi secara terus menerus. karena tidak ada ruginya menciptakan kader-kader NU, kader Ansor, dan kader Banser. Semakin banyak kader semakin banyak manfaat yang diperoleh.

Semakin banyak kader, nanti akan muncul kader terbaik yang akan muncul menjadi anggota DPR, ketua DPR, anggota KPU, ketua KPU, dst. “Ini penting karena terkait dengan visi ketiga, yakni distribusi kader,” ujarnya.

Ketiga, distribusi kader. Jangan sampai kader dicetak, tetapi tidak jelas nanti menjadi apa. “Tidak harus di PKB Semua. Tapi kader harus didistribusikan ke semua kekuatan politik. Sebar, di mana-mana, karena nanti suatu ketika kalau kita panggil dan menjadi satu, itu menjadi kekuatan yang luar biasa.”

Yaqut mengingatkan bahwa tiga visi besar GP Ansor itu yang nanti akan menjadi perbincangan di Konferwil XI GP Ansor Sulut, dan bukan dititik-beratkan pada siapa yang nanti akan menjadi ketua pimpinan wilayah.

“Saya tidak mau ada ribut-ribut ketua PW Ansor. Ndak mau! Ini adalah konferwil kedua setelah Kongres XV. Jangan sampai, prestasi organisasi dirusak dengan keributan,” ujarnya.

Yaqut meminta kadernya untuk menciptakan konferwil yang berkualitas, sehingga GP Ansor bisa menjadi contoh bagi organisasi pemuda lainnya. “Konferwil ini bukan sekadar berebut kursi jabatan, tetapi apa yang bisa dilakukan dalam 5 tahun ke depan.”

4 Problem Besar

Terlebih, katanya, saat ini umat dan bangsa Indonesia tengah menghadapi masalah besar yang membutuhkan peran GP Ansor untuk mengatasinya. Setidaknya ada empat, yakni kebodohan, kemiskinan, kebhinekaan, dan korupsi.

Menurutnya, masih banyak kader-kader di daerah yang tidak bisa bersekolah atau putus sekolah karena masalah biaya. Akibatnya mereka menjadi miskin, dan jatuh miskin. “Kita harus carikan solusinya,” ujarnya.

Sementara itu, kebhinekaan yang merupakan sunnatullah itu sedang menghadapi ancaman, dan GP Ansor berada di tengah-tengah perang antaridiologi yang tidak karuan itu. Ada Wahabi, Liberalisme, Syiah, dan paham antipluralisme lainnya.

“Karena yang benar-benar mempertahankan kebhinekaan menurut saya adalah NU. Kalau kita kalah dalam perang idiologi ini, maka otomatis NU Bubar,” ujarnya. Oleh karena itu, Yaqut setuju dengan tema Konferwil XI GP Ansor Sulut, yakni Pluralisme, Antiradikalisme, dan Nasionalisme.

Di saat yang sama, bangsa Indonesia masih menghadapi penyakit yang merusak sendi-sendi kebangsaan, yakni masalah korupsi. (ansornews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *