Pondok Pesantren (Ponpes) merupakan tempat yang tepat untuk menangkal setiap upaya atau gerakan yang ingin merongrong kedaulatan bangsa dan negara, Pancasila, dan persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab, Ponpes dapat memberikan pemahaman yang benar tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

“Ponpes tempat yang tepat bagi upaya menangkal setiap gerakan radikalisme agama. Kalangan ponpes dan santri bisa memberikan sosialisasi ke masyarakat bahaya gerakan radikal ini, dan bahaya ajaran agama yang menyimpang,” tandas anggota Komisi III DPR RI H Yaqut Cholil Qoumas, dalam acara Rapat Dengar Pendapat dengan masyarakat tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, di Ponpes Roudlotut Tholibin Duwet, Pekalongan Selatan, Kamis (5/3),

Hadir pada acara reses Komisi III DPR RI itu, pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin Duwet KH Saikhu Tachir, kalangan santri, ketua Ansor setempat, Banser, pengurus PKB, petani, perajin batik, dan masyarakat lainnya.

Menurut Gus Tutut, sebenarnya rongrongan terhadap bangsa Indonesia bukan dari bangsa sendiri, melainkan gerakan radikal yang muncul dari Timur Tengah. Gus Tutut yakin gerakan radikal atau pun terorisme tak mungkin masuk ke warga nahdliyin.

“Sejak kecil, anak-anak kita sudah diajarkan agama Islam yang benar. Islam yang sesungguhnya, bukan Islam menyakiti sesama. Justru, gerakan ini mengincar orang-orang yang baru mengenal agama,” kata Gus Tutut.

Ia menyerukan kepada semua kalangan untuk waspada terhadap upaya menggerus kesatuan dan persatuan bangsa dan umat. Apalagi, NU memiliki sejarah yang kuat terhadap setiap gerakan merongrong NKRI. Terlebih, sebagian besar masyarakat Indonesia adalah warga NU.

“Pada Exit poll Pemilu 2014, warga NU sudah berjumlah 48% dari total penduduk Indonesia. Artinya, kalau Indonesia celaka, maka NU juga celaka. Jadi, orang Indonesia, ya orang NU. Ini fakta yang tak terbantahkan,” kata mantan Wakil Bupati Rembang ini.

Bagi bangsa Indonesia, lanjut anggota FKB DPR RI ini, NKRI adalah sudah final. NKRI, UUD’45, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika, adalah konsensus dasar bangsa Indonesia yang harus dijaga.

Selain itu, Gus Tutut juga meminta kepada kader Ansor untuk selalu waspada dan mengantisipasi setiap gerakan radikal yang mengancam bangsa dan negara di sekitar kita. Ansor harus menjaga teguh tradisi; kaderisasi, dan distribusi potensi kader untuk kepentingan masyarakat. “Ayo kita ngaji, ngader, sekaligus makaryo,” pungkas Gus Tutut, yang juga Ketua PP GP Ansor. (dur/ros)

Penulis: Abdurrahman | Radar Pekalongan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *